Home Internasional WHO Sebut Jangka Panjang Pandemi Belum Diketahui

WHO Sebut Jangka Panjang Pandemi Belum Diketahui

24
0
SHARE
WHO Sebut Jangka Panjang Pandemi Belum Diketahui

Jakarta, BIZNEWS.ID - Memasuki bulan kesepuluh sejak munculnya virus corona akhir 2019 lalu, jumlah infeksi telah mencapai lebih dari 38 juta di dunia. Update Covid-19 seperti dilaporkan situs worldometers, kasus bertambah 271.991 dalam satu hari kemarin. Sedangkan korban meninggal bertambah 3.695, sehingga totalnya menjadi 1.085.090 jiwa di seluruh dunia. Selain itu, yang telah dinyatakan sembuh sebanyak lebih dari 28,5 juta orang.

Jumlah infeksi dan angka kematian paling banyak masih terjadi di Amerika Serikat. Negeri Paman Sam itu membukukan 8.037.193 kasus, 220.010 jiwa kematian, dan angka kesembuhan mencapai 5.174.973 orang. Disusul India dengan 7.173.345 kasus infeksi virus corona, 109.894 jiwa di antaranya meninggal dunia, dan 6.224.621 orang telah sembuh.

Bagaimana Indonesia? Secara peringkat di dunia, posisi Indonesia naik ke 21 negara terbanyak kasus Covid-19 dengan total infeksi 336.716 orang. Angka kematian mengapai 11.935 jiwa dan kesembuhan 258.519 orang. Di antara negara Asia, jumlah kasus Indonesia terbanyak ke-8. Tetapi untuk angka kematian, Indonesia terbanyak ke-3 setelah India dan Iran.

Kekebalan kelompok disebut banyak ahli sebagai kunci melawan wabah virus corona. Namun pendapat itu tidak disetujui Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Ghebreyesus.

Kekebalan kelompok terjadi ketika sebagian besar komunitas menjadi kebal terhadap penyakit melalui vaksinasi atau melalui penyebaran penyakit secara massal. Beberapa ahli berpendapat bahwa virus corona harus dibiarkan menyebar secara alami tanpa adanya vaksin.

Tetapi Tedros mengatakan pendekatan seperti itu bermasalah secara ilmiah. Berbicara pada konferensi pers pada Senin (12/10), Dr. Tedros berpendapat bahwa dampak jangka panjang dari virus corona serta kekuatan dan durasi respons kekebalan tetap tidak diketahui.

"Kekebalan kawanan dicapai dengan melindungi orang dari virus, bukan dengan membuat mereka terpapar virus," tegasnya dikutip dari BBC.

"Dalam sejarah kesehatan masyarakat, kekebalan kelompok tidak pernah digunakan sebagai strategi untuk menanggapi wabah, apalagi pandemi," tambah Tedros.

Ia mengatakan bahwa tes seroprevalensi, di mana darah diuji untuk antibodi, menunjukkan bahwa hanya 10 persen orang yang terpapar virus corona di sebagian besar negara.

"Membiarkan Covid-19 beredar tanpa pemeriksaan berarti membiarkan infeksi, penderitaan, dan kematian yang tidak perlu," katanya. Demikian Suara.com

 
Photo : google image