Home Seni dan Budaya Inilah Kisah Roro Jonggrang yang Membuat Delegasi G20 Tertegun

Inilah Kisah Roro Jonggrang yang Membuat Delegasi G20 Tertegun

0
SHARE
Inilah Kisah Roro Jonggrang yang Membuat Delegasi G20 Tertegun

Yogyakarta, BIZNEWS.ID –  Di bawah sinar rembulan yang penuh pada pertengahan Mei lalu, Kelompok Kerja Bidang Ketenagakerjaan Working Group (EWG Meeting) Presidensi G20 Indonesia 2022 tampak menikmati gala dinner atau bersantap malam. Ya, santap malam yang berlangsung di Rama Shinta Resto yang berada di Komplek Unit Theater Pentas Ramayana Prambanan menyajikan hidangan menu khas kota Yogyakarta.

Para tamu delegasi G20 EWG Meeting ini tampak menikmati sajian gala dinner setelah berkutat dengan aktivitas padat yang menyita waktu dan pikiran mereka. Dan saat menikmati gala dinner ini, para tamu delegasi G20 menyaksikan pementasan Dramatari Roro Jonggrang.

Legenda Roro Jonggrang yang ditampilkan di Candi Prambanan ini berkisah tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan antara Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Malam itu, waktu menunjukan pukul 19.30 ketika para tamu delegasi G20 dari berbagai negara  tampak menikmati gala dinner dengan suasana bahagia. Disaksikan sinar bulan nan penuh dan langit cerah menambah suasana menikmati hidangan yang tersaji. Sambil bersantap, para tamu delegasi ini menyaksikan pentas seni khas Candi Prambanan.

Para tamu delegasi tertegun melihat aksi teatrikal, bahkan larut terbawa suasana merdunya iringan musik. Mereka, tertawa dengan adegan lucu bocah-bocah penari, juga hanyut, larut dengan alur cerita yang tak berujung indah.

Kisah Cinta Tak Sampai Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang 

Pada pentas seni pertunjukan Sendratari Roro Jonggrang atau kasih tak sampai ini bermula saat Bandung Bondowoso menyerbu sebuah kerajaan di Prambanan. Dipimpin oleh Prabu Boko,  ayahnda Roro Jonggrang, berperang melawan pasukan Bandung Bondowoso.

Dalam pertempuran itu, dimenangkan Bandung yang hatinya langsung terpaut, jatuh cinta kepada Roro Jonggrang, putri kerajaan yang sudah dikalahkannya.

Sang Putri Roro Jonggrang yang cantik jelita ini menolak pinangan Bandung. Bahkan dia mengajukan syarat mustahil untuk diwujudkan, meminta Bandung membangun seribu candi dalam waktu satu malam. Dengan syarat tersebut apabila Bandung berhasil mewujudkannya, sang Putri Roro berjanji akan menerima lamaran dan bersedia menjadi istrinya.

Besarnya rasa cinta Bandung untuk mempersunting putri Roro, disanggupi persyaratan tersebut. Bandung yakin akan mampu mewujudkan permintaan wanita yang sangat dicintainya ini. Dan Bandung percaya bisa membangun seribu candi dengan bantuan jin dan dedemit

Kegigihan dan demi rasa cintanya yang besar kepada Roro, membuat Bandung bersemangat membangun seribu candi dalam waktu semalam dibantu para jin dan dedemit yang berhasil dia kumpulkan.

Roro Jonggrang panik melihat persyaratan yang diajukan ke Bandung hampir berhasil membangun seribu candi. Diapun mengeluarkan trik licik untuk mengelabui para jin.

Roro Jonggrang lalu membakar api  dan menumbuk padi sebagai isyarat fajar akan segera menyingsing. Hal ini tentu saja membuat para jin panik dan kalang kabut menyangka waktu telah berganti pagi. Para jin dan dedemit langsung meninggalkan pekerjaan membangun candi yang sudah berhasil  diselesaikan 999 candi.

Bandung Bondowoso marah dan kecewa mengetahui Roro Jonggrang berlaku curang  menggagalkan cita-citanya mewujudkan seribu candi. Dilandasi kemarahan besar, Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca sebagai penggenapan seribu candi.

Yogyakarta, Embrio Keberagaman dan Toleransi

Dalam momen G20 EWG Meeting ini, Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziah mengaku kagum dengan penyelenggaraan gala dinner di Candi Prambanan. Ida begitu bersemangat mengajak seluruh tamu delegasi G20 untukbbersama-sama menikmati keistimewaan Yogyakarta dengan kebudayaan dan kulinernya yang khas.

“Kami berkesempatan menikmati keindahan Yogya di Candi Prambanan, dan menyaksikan langsung pertunjukan sendratari Roro Jonggrang yang melegenda,” kata Ida seusai acara gala dinner pada Selasa malam, 10 Mei lalu.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang juga hadir di Prambanan, merasa terhormat karena Yogyakarta dipilih sebagai tempat berlangsungnya pertemuan EWG Meeting ini.

Pada kesempatan itu, Sri Sultan HB X menyampaikan bahwa Yogyakarta memiliki embrio keberagaman dan toleransi. “Candi Prambanan yang Anda nikmati pada malam hari ini, telah menjadi saksi indahnya rajutan toleransi antar agama pada peradaban masa lampau,” kata Raja Keraton Yogyakarta ini.

Menurutnya, Prambanan merupakan Candi Hindu yang berdampingan dengan Candi Sewu tenapat ibadah umat Budha.

“Sifat toleransi inilah yang sejatinya harus dikembangkan dan dilanjutkan di bidang ketenagakerjaan. Menurut tataran, tak ada satupun yang tertinggalkan, terlupakan atau terpinggirkan atas haknya,” ujar Sri Sultan.

Sri Sultan berharap keistimewaan Yogyakarta bisa menjadi inspirasi bagi para delegasi anggota G20 untuk menelurkan ide-ide cemerlang di bidang ketenagakerjaan.

“Saya yakin, para peserta akan diliputi antusiasme dan ide-ide cemerlang untuk mendukung tercapainya misi pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang produktif dan berkelanjutan,” imbuh Sultan.

Adapun PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur&Ratu Boko sebagai BUMN pengelola destinasi wisata berbasis cagar budaya, mendukung aktivitas Presidensi G20 Indonesia 2022. Hal ini dilakukan dengan mempersiapkan destinasi serta atraksi yang menarik bagi para delegasi.

Menurut PT TWC Unit Teater dan Pentas berkomitmen mempersembahkan destinasi serta atraksi yang berkesan bagi para tamu delegasi G20 yang hadir.

“Kami mengajak delegasi G20 menjelajahi travel experience yang disuguhkan seperti atraksi Roro Jonggrang dan panorama Candi Prambanan di kala malam hari,”  kata General Manager PT TWC Unit Teater dan Pentas, Chrisnamurti Adiningrum.

Chrisnamurti berharap, “Semoga para tamu delegasi G20 yang menikmati gala dinner sambil menyaksikan pertunjukan Roro Jonggrang ini, mendapatkan pengalaman berkesan, terbaik dan bisa diceritakan  kembali saat mereka pulang ke negaranya masing-masing.”

Prambanan, Candi Hindu Terbesar di Indonesia

Dalam sejarahnya, Candi Prambanan atau orang sering menyebutnya Candi Roro Jonggrang merupakan kompleks candi Hindu atau Syaiwa terbesar di Indonesia.

Candi ini dibangun pada abad kesembilan Masehi. Dan candi ini dipersembahkan untuk Trimurti atau tiga dewa utama Hindu yakni Dewa Brahma, sebagai dewa pencipta, laku Dewa Wisnu sebagai dewa pemelihara dan Dewa Siwa sebagai dewa pemusnah.

Berdasarkan Prasasti Siwaqrha, nama asli komplek candi ini dalam makna bahasa Sansekerta artinya Rumah Siwa. Dan hal ini tampak pada qarbaqriha atau ruang utama pada candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter. Dan kabarnya hal ini lantaran aliran Siwa yang mengutamakan pemujaan Dewa Siwa di candi ini.

Seperti halnya Candi Borobudur, Candi Prambanan yang merupakan candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno ini, juga dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991.

Candi Prambanan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan yang memerintah Mataram Kuno antara 840-856 Masehi. Rakai Pikatan mengawasi langsung pembuatan kontruksi dan desain percandian Roro Jonggrang, candi utama di Prambanan.

Sementara candi-candi kecil lainnya yang berada di kompleks Candi Prambanan dibangun pada masa raja-raja berikutnya, bahkan hingga periode kekuasaan Rakai Watukara Dyah Balitung (898 hingga 915 Masehi).

Dan karena letak jaraknya Candi Prambanan ini hanya 19 Kilometer dari Candi Borobudur, oleh beberapa sejarahwan menafsirkan latar belakang didirikannya Candi Prambanan sebagai respon artistik, politik dan agama terhadap pembangunan Borobudur.

Menurut Prasasti Shivaqrha, selama pembangunan Candi Prambanan, pada warga melakukan pergeseran aliran sungai.

Sungai yang kini dikenal sebagai Opak, mengalir dari Utara ke Selatan di sisi barat kompleks Candi Prambanan. Awalnya, aliran sungai ini melengkung ke Timur dan terlalu dekat dengan bangunan candi. Namun demi mengamankan kompleks candi dari luapan material Gunung Merapi, maka dilakukan penggeseran aliran sungai. Dan bekas aliran sungai ini ditimbun dan diratakan untuk menciptakan ruang yang lebih luas bagi bangunan Candi Prambanan.

Dulunya, jumlah candi Prambanan mencapai 240 candi yang terdiri dari tiga candi Trimurti, tiga candi Wahana, dua candi Apit, empat candi Kelir, empat candi Patok dan 224 candi Perwara.

Seperti karakteristik candi Hindu pada umumnya, arsitek Candi Prambanan ini berbentuk tinggi dan langsing. Demikian maritim.go.id.