Home Ekonomi IHSG dan Ilusi MSCI: Ketika Bursa Indonesia Digiring Arus Dana Global

IHSG dan Ilusi MSCI: Ketika Bursa Indonesia Digiring Arus Dana Global

Oleh Hery Nugroho - Ekonom pada Swasaba Research Initiative

0
SHARE
IHSG dan Ilusi MSCI: Ketika Bursa Indonesia Digiring Arus Dana Global

BIZNEWS.ID - Setiap kali IHSG menguat tajam dan disertai masuknya dana asing, narasi yang nyaris selalu menyertai antara lain: “Kepercayaan investor global kepada bursa Indonesia telah pulih.” Narasi ini terdengar meyakinkan, patriotik, dan menenteramkan. Masalahnya, narasi semacam ini sering kali membuai ke arah penyesatan. Dalam dunia pasar modal global yang semakin didominasi investasi pasif, pergerakan dana asing ke Indonesia tidak selalu merefleksikan penilaian atas fundamental ekonomi. Sering kali itu semua hanyalah konsekuensi (mekanis) dari posisi Indonesia dalam indeks MSCI.

Saat ini, Indonesia berada dalam kategori MSCI Emerging Markets—kelas menengah dalam hierarki indeks global. Posisi ini menjadikan saham-saham Indonesia dikategorikan sebagai “wajib beli” bagi dana indeks dan investor berbasis benchmark Emerging Markets. Hampir USD2 triliun dana global secara langsung atau tidak langsung mengacu pada indeks ini. Ketika bobot Indonesia naik, akan diikuti dengan dana masuk. Sebaliknya, ketika bobot turun, maka dana akan mengalir keluar. Sesederhana itu.

Sebuah studi akademik dari National Bureau of Economic Research (NBER) beberapa tahun lalu, yang meneliti 17 kasus reklasifikasi MSCI di berbagai negara, telah membuka mata kita tentang bagaimana mekanisme itu bekerja. Kesimpulannya mengejutkan: harga pasar sering kali digerakkan oleh arus dana indeks, bukan oleh nilai fundamental.

Ketika suatu negara naik kelas dalam MSCI—misalnya dari Frontier ke Emerging—harga sahamnya rata-rata akan melonjak lebih dari 20 persen sebelum tanggal efektif reklasifikasi. Media menyebutnya sebagai “validasi global.” Padahal, setahun kemudian, sebagian besar kenaikan itu lenyap kembali. Harga turun bukan karena ekonomi memburuk, tetapi karena tekanan beli dari dana indeks telah usai.

Sebaliknya, ketika negara diturunkan kelas dan pasar pun panik. Harga jatuh, IHSG merah, dana asing keluar. Namun setelah tekanan jual berakhir, harga saham justru bangkit kembali secara signifikan. Artinya, pasar sebelumnya bereaksi berlebihan (overreacted).

Apa relevansinya bagi Indonesia? Ternyata sangat besar. IHSG dalam beberapa tahun terakhir sering menunjukkan pola pergerakan yang janggal: bisa naik meski rupiah jeblok, atau sebaliknya. Banyak analis dibuat bingung, lalu menyalahkan “sentimen global”. Padahal, salah satu penjelasan paling masuk akal adalah tingginya dominasi arus dana berbasis indeks MSCI.

Ketika dana global meningkatkan alokasi ke Emerging Markets—entah karena perubahan suku bunga AS, rebalancing portofolio, atau sekadar rotasi regional— Indonesia kebagian aliran dana, terlepas dari apakah APBN sedang defisit melebar, neraca transaksi berjalan rapuh, atau pertumbuhan kredit melambat. IHSG naik bukan karena ekonomi membaik, melainkan karena Indonesia masih berada pada “keranjang indeks yang tepat”.

Inilah ilusi berbahaya yang jarang sekali diakui. Dana asing yang masuk karena MSCI bukan modal jangka panjang, bukan pula vote of confidence atas kebijakan ekonomi. Ia sekadar modal yang patuh indeks—datang cepat, pergi cepat, dan (pasti) tidak loyal.

Implikasinya serius bagi regulator dan pembuat kebijakan. Ketika IHSG menguat, pemerintah kerap merasa punya ruang lebih besar untuk menunda reformasi struktural. Ketika IHSG jatuh, kepanikan muncul seolah pasar sedang “menghukum” Indonesia. Padahal, dalam banyak kasus, konjungtur pergerakan pasar itu hanya sekadar menjalankan algoritma indeks global.

Bagi investor domestik, risikonya lebih tegas lagi. Euforia atas kenaikan IHSG yang dipicu oleh dana asing, sering membuat investor ritel terlambat masuk—membeli ketika harga sudah terdorong arus indeks. Sebaliknya, saat dana asing keluar dan IHSG tertekan, kepanikan membuat mereka menjual di dasar. Ini jelas-jelas pola klasik yang selalu memakan korban akibat mekanisme global.

Pelajaran terpenting dari studi reklasifikasi MSCI itu sederhana, namun pahit: status indeks bukanlah cermin nilai ekonomi. Upgrade atau bobot naik tidak menjamin keuntungan jangka panjang. Downgrade atau penurunan bobot tidak selalu berarti kehancuran.

Selama IHSG masih sangat bergantung pada dana asing berbasis benchmark, pasar modal Indonesia akan tetap rentan terhadap euforia dan koreksi yang tidak sepenuhnya rasional. Dan selama kita terus menafsirkan arus dana indeks sebagai “kepercayaan investor”, sesungguhnya kita sedang menipu diri kita sendiri.

Pasar saham seharusnya bicara tentang nilai dan prospek ekonomi. Tetapi di era MSCI, IHSG sering kali hanya bicara tentang arus uang global. Dan sebagaimana galibnya, perangai arus selalu berubah arah. ***