Home Komunitas Sejarah dan Makna Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Sejarah dan Makna Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

27
0
SHARE
Sejarah dan Makna Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW


Jakarta, BIZNEWS.ID - Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terakhir yang diutus Allah SWT ke muka bumi untuk membawa risalah Tauhid (Islam) kepada umat manusia. Nabi Muhammad, berdasarkan jumhur Ulama, lahir di Mekkah pada 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah atau 22 April 571 M.

Pada awal mulanya, ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad Rasulullah SAW mendapat tantangan yang luar biasa dari Kafir Qurasy Mekkah. Namun berkembang dengan cepat setelah Nabi Muhammad melakukan Hijrah ke Madinah. Perkembangan perluasan wilayah Islam yang signifikan terjadi pada masa Khalifah Umar bin Kahattab.

Kini setiap 12 Rabiul Awal, umat Islam di seluruh dunia menyambutnya dengan Perayaan Maulid Nabi Muhammad SWA. Perayaan Maulid telah menjadi tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhhammad SAW wafat.

Mengenai siapa sosok yang pertama kali menjadi pelopor Perayaan Maulid, para pakar Islam berbeda pendapat. Dikutip dari Wikipedia, ada pendapat yang mengatakan bahwa Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Raja Irbil (wilayah Irak sekarang), bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 Hijriyah.

Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata: Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awal. Dia merayakannya secara besar-besaran. Dia adalah seorang yang berani, pahlawan, alim dan seorang yang adil. Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn Al-Jauzi bahwa dalam peringatan tersebut, Sultan Al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh ulama dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama dalam bidang ilmu Fiqh, ulama Hadits, ulama dalam bidang ilmu kalam, ulama usul, para ahli tasawuf, dan lainnya.

Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan Maulid Nabi, dia telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan Al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandangan dan menganggap baik perayaan Maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya itu.

Para ahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn Al-Jauzi, Ibn Kathir, Al-Hafizh Al-Sakhawi, Al-Hafizh Al-Suyuthi dan lainnya telah sepakat menyatakan bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan Al-Muzhaffar.

Namun pendapat lain mengatakan bahwa Sultan Salahuddin Al-Ayyubi lah orang yang pertama kali mengadakan Perayaan Maulid Nabi (pendapat ini lebih populer ketimbang pendapat pertama). Sultan Salahuddin kala itu membuat Perayaan Maulid dengan tujuan membangkitkan semangat umat Islam yang telah padam untuk kembali berjihad dalam membela Islam pada masa Perang Salib.

Terlepas siapa yang pertama kali mempelopori Peryaan Maulid, namun secara substansi, Peringatan Maulid adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW. Perayaan Maulid juga menjadi pengingat bagi kita akan jasa dan perjuangan yang dilakukan Nabi Muhammad dalam mengembangkan misi Islam hingga sampai ke seluruh penjuru dunia.

Disamping itu, Perayaan Maulid Nabi juga menjadi moment dalam memperteguh keimanan kepada Allah SWT, serta semakin memperkuat ukhuwah Islam antar sesama masyarakat.

Perayaan Maulid di Indonesia

Umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia memiliki cara dan tradisi yang berbeda dalam melakukan Perayaan Maulid, namun pada intinya dilakukan melalui acara keagamaan. Di Aceh, misalnya, Perayaan Maulid dilakukan dengan cara yang cukup meriah dimana setelah larut dalam lantunan shalawat kepada Nabi Muhammad dan pembacaan syair barzanji, selanjutkan dilakukan kenduri bersama yang telah disiapkan baik yang dibawa oleh masyarakat langsung maupun yang disediakan panitia khusus di masjid atau meunasah. Demikian SinarPost.com

Allahhumma shalli ‘ala Sayyidina Muhmmad…!