BIZNEWS.ID, Bojonegoro – Tumpukan sampah yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan justru menjadi sumber penghasilan bagi warga Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Di desa tersebut, sampah rumah tangga tidak serta-merta berakhir di tempat pemrosesan akhir. Warga didorong memilah sampah sejak dari sumbernya untuk kemudian diolah sesuai jenis dan manfaatnya melalui Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSMKH).
Melalui sistem pengelolaan tersebut, sampah memiliki beragam manfaat. Sampah yang memiliki nilai jual ditabung dan hasilnya dapat digunakan untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Sementara sampah organik diolah menjadi maggot dan pupuk, sedangkan sampah plastik bernilai rendah diproses menggunakan teknologi pirolisis menjadi bahan bakar alternatif.
Pengelolaan sampah terintegrasi ini merupakan bagian dari Program Biru Langit Jambaran-Tiung Biru (JTB) Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 melalui program pengelolaan limbah domestik terintegrasi.
Berawal dari kepedulian terhadap lingkungan, program tersebut berkembang menjadi kegiatan ekonomi masyarakat sekaligus pusat pembelajaran pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Pendiri BSMKH, Imam Mukhlas, mengatakan kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah terletak pada perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah.
Menurutnya, sampah tidak semestinya hanya dipandang sebagai persoalan yang harus dibuang. Jika dipilah sejak dari rumah, sampah dapat menjadi bahan baku berbagai kegiatan yang memiliki nilai ekonomi.
“Bank sampah ini fokusnya adalah integrated system, yaitu mengintegrasikan berbagai sistem dalam penyelesaian sampah. Sampah jangan hanya dipandang sebagai masalah di masyarakat, tetapi juga bisa menjadi energi dan memiliki nilai ekonomi,” ujar Imam di Sekretariat BSMKH, Selasa (22/9/2026).
Edukasi pengelolaan sampah dimulai dari tingkat rumah tangga. Warga didorong untuk memilah sampah menjadi tiga kelompok, yakni sampah organik, anorganik yang masih memiliki nilai jual, serta residu.
Sampah yang memiliki nilai ekonomi kemudian ditimbang dan dicatat sebagai tabungan. Menariknya, tabungan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai simpanan, tetapi dapat dimanfaatkan untuk membayar PBB warga.
Penimbangan dilakukan setiap dua bulan atau sebanyak enam kali dalam setahun. Nilai sampah yang terkumpul kemudian diakumulasikan dan disandingkan dengan kewajiban PBB masing-masing warga.
“Tabungan sampah ditimbang setiap dua bulan. Dalam setahun ada enam kali penimbangan. Akumulasi tabungan itu kemudian kami sandingkan dengan jumlah PBB yang harus dibayar masyarakat. Hasilnya cukup untuk membayar pajak selama setahun,” ujar Imam.
Menurut Imam, skema tersebut memberikan manfaat langsung kepada masyarakat sehingga mendorong warga untuk lebih konsisten memilah sampah dari rumah.
Sampah Organik Diolah Jadi Maggot dan Pupuk
Untuk sampah organik, BSMKH mengembangkan konsep SI IMUT, singkatan dari Sistem Integrasi Ikan, Maggot, Unggas dan Tanaman.
Sampah organik diurai menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot. Dari proses tersebut dihasilkan maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan, ayam, bebek, hingga burung.
Sementara itu, sisa proses penguraian dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Konsep tersebut tidak hanya diterapkan di lingkungan BSMKH, tetapi juga diperkenalkan kepada masyarakat dan lingkungan pendidikan.
BSMKH turut menawarkan konsep SI IMUT kepada sekolah-sekolah yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Melalui program tersebut, siswa dapat mempelajari secara langsung bagaimana sampah organik diolah menjadi produk yang bermanfaat.
“Kami juga menawarkan konsep SI IMUT ke sekolah-sekolah. Jadi anak-anak bisa melihat langsung bahwa sampah organik dapat diolah dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” kata Imam.
Inovasi pengelolaan sampah tersebut bahkan mengantarkan BSMKH menjadi salah satu nominator Bojonegoro Inovasi Award 2025 mewakili Kecamatan Ngasem.
Plastik Bernilai Rendah Diubah Jadi Bahan Bakar
Persoalan lain dalam pengelolaan sampah adalah plastik bernilai rendah, seperti kantong kresek. Jenis sampah tersebut memiliki nilai jual sekitar Rp500 per kilogram sehingga relatif sulit memberikan manfaat ekonomi jika hanya dijual.
BSMKH kemudian mengembangkan solusi melalui teknologi pirolisis. Sampah plastik yang tidak memiliki nilai ekonomi diolah menjadi bahan bakar alternatif yang digunakan untuk kebutuhan operasional internal BSMKH.
“Jadi ketika sampah dipilah dan tidak dicampur, masing-masing memiliki fungsi. Sampah plastik yang nilainya sangat rendah bisa kita olah dengan teknologi pirolisis menjadi bahan bakar alternatif,” ujar Imam.
Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah dilakukan dalam satu rangkaian, mulai dari pemilahan di rumah, pemanfaatan sampah yang memiliki nilai jual, pengolahan sampah organik, hingga pemanfaatan sampah plastik yang sebelumnya sulit ditangani.
Imam mengatakan dukungan PEPC Zona 12 turut membantu pengembangan BSMKH. Selain menjadi pusat kegiatan pengelolaan sampah, lokasi tersebut kini juga menjadi tempat pembelajaran bagi mahasiswa dan sejumlah perguruan tinggi yang ingin mempelajari praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Dari Komunitas Menjadi Sumber Penghasilan
Ketua BSMKH, Ujang Surya Abdillah, mengatakan BSMKH mulai dirintis pada 2016. Saat itu, kegiatan masih berupa kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap persoalan lingkungan.
Setahun kemudian, kelompok tersebut mulai mendapatkan pendampingan dari Pertamina EP Cepu.
“Awalnya kita hanya kelompok masyarakat yang peduli lingkungan. Kita punya visi Desa Sendangharjo bebas dari sampah, sekaligus punya gagasan membayar Pajak Bumi dan Bangunan melalui menabung sampah,” ujar Ujang.
Seiring berjalannya waktu, aktivitas BSMKH tidak hanya memberikan dampak terhadap lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Saat ini sekitar 21 orang aktif dalam berbagai kegiatan BSMKH, mulai dari memilah dan menjemput sampah, budidaya maggot, hingga mengoperasikan teknologi pirolisis.
Menurut Ujang, aktivitas tersebut turut mengubah pandangan terhadap pekerjaan yang sebelumnya identik dengan istilah pemulung. Kini, pekerjaan tersebut berkembang menjadi kegiatan pemilahan sampah yang lebih terorganisasi dan memberikan penghasilan.
“Awalnya kita mengenal pemulung. Sekarang sudah ada istilah pekerja pemilah sampah. Mereka bisa mendapatkan pendapatan dari kegiatan ini,” katanya.
Besaran penghasilan yang diterima pekerja bergantung pada volume sampah dan jenis kegiatan yang dilakukan. Dalam kondisi tertentu, pendapatan pekerja dapat mencapai sekitar Rp2 juta per bulan.
Manfaat ekonomi juga dirasakan oleh ibu rumah tangga yang terlibat dalam kegiatan BSMKH. Selain berkontribusi terhadap pengelolaan lingkungan, mereka kini memiliki sumber pendapatan tambahan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Biasanya ibu rumah tangga hanya berkutat di sawah dan dapur. Setelah aktif di sini, mereka punya pendapatan untuk uang belanja. Jadi tidak hanya mengandalkan penghasilan suami,” tutur Ujang.
Pengalaman BSMKH menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat dikembangkan tidak hanya sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi. Melalui pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan kembali, sampah yang sebelumnya dianggap sebagai beban dapat diubah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.



















LEAVE A REPLY