Home Nasional Gus Kikin dan Arah Baru Pengkhidmatan NU

Gus Kikin dan Arah Baru Pengkhidmatan NU

0
SHARE
Gus Kikin dan Arah Baru Pengkhidmatan NU

Keterangan Gambar : KH Abdul Hakim Mahfudz, atau yang akrab disapa Gus Kikin bersama Keluarga

BIZNEWS.ID, Jakarta — Ada yang menarik dari perjalanan KH Abdul Hakim Mahfudz, atau yang akrab disapa Gus Kikin. Lahir dari keluarga pesantren dan merupakan cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, perjalanan hidupnya tidak berjalan lurus dari pesantren ke pesantren.

Gus Kikin pernah belajar pelayaran, bekerja di perusahaan pelayaran, terjun ke dunia usaha, serta bersentuhan dengan dunia profesional. Hingga akhirnya ia kembali ke pesantren dan dipercaya menjadi Pengasuh Pesantren Tebuireng. Kini, perjalanan panjang itu membawanya pada amanah yang lebih besar: memimpin Nahdlatul Ulama (NU) sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.

Barangkali justru perjalanan itulah yang membuat sosok Gus Kikin menarik. Ia mengenal pesantren dari dalam, tetapi juga pernah cukup lama berada di luar lingkungan pesantren.

Dunia pelayaran mengajarkannya disiplin dan ketangguhan. Dunia usaha mempertemukannya dengan risiko, pengambilan keputusan, dan tanggung jawab. Ketika kemudian kembali ke Tebuireng, pengalaman tersebut tidak harus ditinggalkan. Semua menjadi bekal untuk melihat pesantren dan NU dari perspektif yang lebih luas.

Ada ungkapan sederhana: semakin jauh seseorang berjalan, semakin banyak yang dilihat. Gus Kikin seperti menjalani perjalanan semacam itu. Ia pergi cukup jauh untuk mengenal dunia, tetapi akhirnya kembali ke tempat dari mana nilai-nilai awal kehidupannya tumbuh.

Kembali ke pesantren bukan berarti kembali ke masa lalu. Ia pulang dengan membawa pengalaman dari luar, lalu menggunakannya untuk memperkuat akar.

Menjaga Tradisi, Membaca Perubahan

Tebuireng bukan sekadar pesantren. Ia merupakan salah satu simpul penting dalam sejarah NU. Ketika Gus Kikin dipercaya melanjutkan kepengasuhan setelah KH Salahuddin Wahid, ia menerima tanggung jawab untuk menjaga warisan sekaligus menghadapi perubahan zaman.

Dunia pendidikan bergerak cepat. Teknologi mengubah cara belajar, sementara generasi muda memiliki kebutuhan dan tantangan yang terus berkembang. Pesantren tidak mungkin hanya bertahan dengan cara-cara lama.

Tradisi perlu dijaga, tetapi cara mengelolanya harus terus berkembang.

Di sinilah pengalaman Gus Kikin menjadi relevan. Ia memiliki kesempatan untuk mempertemukan tradisi dengan profesionalisme. Nilai-nilai pesantren memberikan arah, sementara pengalaman profesional membantu menerjemahkan arah tersebut menjadi kerja yang lebih tertata.

Keduanya tidak harus dipertentangkan. Justru NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga kedalaman tradisi sekaligus memahami tuntutan perubahan.

Perjalanan Gus Kikin di NU pun bukan perjalanan singkat. Ia pernah berada di PWNU Jawa Timur, kemudian dipercaya dalam struktur PBNU, hingga memimpin PWNU Jawa Timur. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan mengenal NU dari berbagai lapisan: dinamika organisasi, pesantren, kader, hingga warga NU di daerah.

Kini, pengalaman tersebut dibawa ke tingkat nasional.

Dari Muktamar Menuju Khidmah

Muktamar ke-35 kemudian memberikan amanah tersebut. Gus Kikin memperoleh 472 suara dalam proses penjaringan sebelum akhirnya ditetapkan melalui mekanisme Ahlul Halli wal ‘Aqdi sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.

Setelah keputusan itu diambil, rasanya tidak perlu lagi memperpanjang cerita tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Muktamar telah selesai.

Yang dimulai sekarang adalah khidmah.

Salah satu gagasan Gus Kikin yang menarik adalah ajakannya untuk kembali memahami Qanun Asasi sebagai ruh sekaligus kompas NU.

Bagi saya, pesan tersebut memiliki makna yang dalam. Semakin jauh sebuah organisasi berjalan, semakin penting ia mengetahui dari mana ia berasal.

Namun, kembali kepada akar bukan berarti menolak perubahan. Justru akar yang kuat membuat sebuah pohon mampu tumbuh lebih tinggi.

Menyatukan Pengalaman dan Masa Depan

Di situlah harapan terhadap kepemimpinan Gus Kikin menemukan tempatnya.

Ia memiliki pengalaman yang mempertemukan beberapa dunia: pesantren dan profesionalisme, tradisi dan perubahan, pengalaman lokal dan pandangan yang lebih luas.

NU ke depan membutuhkan kemampuan semacam itu. Bukan untuk menjadikan NU sesuatu yang berbeda dari dirinya sendiri, melainkan untuk membuat kekuatan yang telah dimiliki NU dapat bekerja lebih baik dan manfaatnya semakin terasa bagi masyarakat.

Lima tahun ke depan tentu bukan pekerjaan Gus Kikin seorang diri. NU terlalu besar untuk bergantung pada satu figur.

Kepemimpinan yang baik justru terletak pada kemampuan mengajak banyak orang bergerak dalam arah yang sama. Para kiai, kader muda, perempuan NU, pesantren, perguruan tinggi, badan otonom, serta seluruh warga jam’iyah memiliki tempat dalam perjalanan tersebut.

Mungkin itu yang membuat perjalanan Gus Kikin terasa istimewa. Ia lahir dari akar pesantren, pernah mengarungi dunia yang luas, kemudian kembali untuk berkhidmah.

Kini, pengalaman panjang tersebut mendapat amanah yang lebih besar.

Semoga perjalanan itu menjadi bekal untuk memimpin NU dengan hati yang teduh, pandangan yang luas, dan keberanian membaca masa depan tanpa kehilangan akar.

Selamat berkhidmah, Gus Kikin.

Choirul Sholeh Rasyid
Ketua PBNU