BERITAJABAR.ID - Saya mengenal Gus Kikin, KH Abdul Hakim Mahfudz, bukan dari cerita orang. Kami pernah berada dalam lingkungan organisasi yang sama, berinteraksi dalam berbagai kesempatan, berdiskusi, dan bertemu dalam suasana formal maupun informal. Dari kedekatan itu, saya melihat satu karakter yang menurut saya penting dalam membaca sosok beliau: kesederhanaan seorang kiai yang relatif sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Gus Kikin lahir dari keluarga ulama, tumbuh dalam tradisi pesantren, memiliki pengalaman pendidikan dan organisasi, serta pengalaman di dunia usaha. Tetapi berbagai modal tersebut tidak membuatnya harus selalu tampil sebagai pusat perhatian.
Beliau sederhana, santun, mudah bergaul, dan tidak berjarak.
Bagi saya, karakter semacam ini justru sangat dekat dengan tradisi kepemimpinan para muassis NU.
Para muassis tidak membangun NU untuk membesarkan diri. Mereka membangun jam'iyah untuk menjaga tradisi keilmuan, merawat pesantren, membimbing umat, dan menghadirkan Islam yang rahmatan lil alamin dalam kehidupan kebangsaan.
Kepemimpinan mereka tidak pertama-tama lahir dari ambisi terhadap jabatan. Ia lahir dari khidmah
Karena itu, ketika NU hari ini semakin besar, semakin kompleks, dan semakin luas pengaruhnya, mungkin kita perlu kembali bertanya: kepemimpinan seperti apa yang sebenarnya kita butuhkan?
NU tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan tokoh dengan pengalaman organisasi. Tidak kekurangan jaringan dan sumber daya.
Yang semakin kita butuhkan adalah pemimpin yang tidak terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.
Pemimpin yang tidak menjadikan jabatan sebagai panggung pribadi.
Pemimpin yang tidak membutuhkan organisasi untuk memperoleh pengakuan.
Pemimpin yang sudah cukup dengan dirinya sehingga memiliki ruang yang lebih besar untuk memikirkan orang lain.
Itulah makna dari istilah “sudah selesai dengan dirinya sendiri.”
Orang yang belum selesai dengan dirinya membutuhkan panggung. Ia membutuhkan posisi untuk menunjukkan bahwa dirinya penting. Sebaliknya, orang yang sudah selesai dengan dirinya tidak terlalu membutuhkan semua itu.
Ia bisa bekerja tanpa harus selalu disebut.
Ia bisa mendengar tanpa merasa kehilangan kewibawaan.
Ia bisa berbeda pendapat tanpa menjadikan perbedaan sebagai permusuhan.
Dan ia bisa mengutamakan kepentingan jam'iyah di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Dalam konteks itulah Gus Kikin menjadi menarik untuk diperbincangkan.
Bukan semata karena latar belakang keluarganya. Bukan pula karena pengalaman dan jaringan yang dimilikinya. Tetapi karena ada karakter kepemimpinan yang mengingatkan kita pada satu hal yang sering terlupakan dalam politik organisasi: semakin besar amanah, semakin kecil ruang bagi ego pribadi.
NU hari ini bukan lagi organisasi kecil. Ia memiliki jaringan pesantren yang luas, perguruan tinggi, lembaga pendidikan, lembaga sosial, jaringan ekonomi, dan jejaring internasional. Tantangan yang dihadapi pun semakin kompleks.
Karena itu, kepemimpinan NU ke depan tidak cukup hanya membutuhkan kemampuan memenangkan kontestasi.
NU membutuhkan kemampuan menyatukan.
Menyatukan pesantren dan perguruan tinggi. Menjembatani generasi tua dan generasi muda. Menghubungkan struktur organisasi dengan jamaah. Memperkuat peran NU di tingkat nasional dan internasional tanpa kehilangan akar tradisinya.
Semua itu membutuhkan kepemimpinan yang tenang, matang, dan tidak mudah terseret oleh konflik personal.
Kepemimpinan yang melihat NU sebagai rumah besar, bukan arena untuk memenangkan kelompok tertentu.
Di sinilah Gus Kikin dan para muassis NU bertemu dalam sebuah gagasan yang lebih besar: kepemimpinan sebagai khidmah.
Kembali kepada muassis bukan berarti NU harus kembali ke masa lalu. Justru sebaliknya. Kembali kepada muassis berarti kembali kepada nilai-nilai yang membuat NU mampu bertahan melewati zaman.
Para muassis mengajarkan bahwa ilmu harus berjalan bersama akhlak. Organisasi harus berjalan bersama pengabdian. Kekuasaan harus disertai tanggung jawab. Dan kepemimpinan pada akhirnya harus menghasilkan kemanfaatan bagi umat.
Maka, dalam setiap pergantian kepemimpinan NU, barangkali pertanyaan kita tidak cukup berhenti pada: siapa yang paling kuat?
Kita perlu bertanya:
Siapa yang paling siap berkhidmah?
Bukan siapa yang paling membutuhkan NU, tetapi siapa yang paling siap memberikan dirinya untuk NU.
Bukan siapa yang paling ingin menjadi besar karena NU, tetapi siapa yang mampu membuat NU semakin besar tanpa harus membesarkan dirinya sendiri.
Bukan siapa yang paling pandai memenangkan kontestasi, tetapi siapa yang setelah kontestasi selesai mampu merangkul semua pihak dan kembali menjadikan NU sebagai rumah bersama.
Saya kira, inilah relevansi Gus Kikin dengan warisan para muassis.
Bukan karena beliau harus menjadi salinan para pendahulunya. Setiap zaman memiliki tantangan sendiri. Tetapi karena NU membutuhkan karakter kepemimpinan yang mampu menerjemahkan nilai-nilai lama ke dalam kebutuhan zaman baru.
Pada akhirnya, NU tidak membutuhkan pemimpin yang paling banyak berbicara tentang dirinya.
NU membutuhkan pemimpin yang membuat dirinya tidak terlalu penting, karena yang menjadi penting adalah NU itu sendiri.
Mungkin inilah saatnya kita kembali melihat kepemimpinan NU melalui cermin para muassis.
Dan dari sana kita belajar kembali bahwa jabatan bukanlah puncak perjalanan.
Jabatan adalah amanah.
Dan amanah, dalam tradisi NU, selalu berujung pada satu kata:
Khidmah.




















LEAVE A REPLY