Home Ekonomi Ekonomi Overheating, Koreksi yang Tak Terelakkan

Ekonomi Overheating, Koreksi yang Tak Terelakkan

0
SHARE
Ekonomi Overheating, Koreksi yang Tak Terelakkan

BIZNEWS.ID - BURSA saham sering kali rontok pada kondisi yang paling tidak masuk akal, yaitu ketika ekonomi terlihat kuat, optimisme meluas, dan prediksi pertumbuhan berada pada titik yang meyakinkan. Sejarah finansial berulang kali telah menunjukkan bahwa puncak euforia justru sering menjadi awal koreksi. Ketika indeks mencetak rekor, likuiditas sedang melimpah, dan risiko dianggap minimal, justru di saat seperti itulah sistem mulai bekerja dan tanda-tanda ekonomi kepanasan (overheating) akan muncul. Yaitu ketika kondisi ekonomi dan pasar bergerak terlalu cepat, hingga melampaui batas kapasitas fundamentalnya.

Dalam perspektif makrofinansial, overheating bukan sekadar refleksi pertumbuhan yang tinggi, sebenarnya juga menunjukkan pertumbuhan yang tidak seimbang. Akselerasi permintaan agregat melaju lebih cepat daripada kemampuan produksi riil, output gap menjadi positif, pasar tenaga kerja mengetat, dan tekanan inflasi pun meningkat. Di saat yang sama, kebijakan moneter yang akomodatif, atau arus masuk modal global yang deras, telah menciptakan likuiditas berlebih yang mengalir ke aset-aset finansial. Harga saham pun akan naik bukan hanya karena peningkatan kinerja perusahaan, tetapi juga karena ekspansi leverage dan ekspektasi pasar yang semakin optimistis.

Data historis atas keadaan seperti itu menunjukkan pola yang konsisten. Sepanjang 1995– 2000 misalnya, Indeks Nasdaq melonjak hampir 400 persen, sebelum akhirnya terperosok lebih dari 70 persen setelah bubble teknologi pecah. Demikian pula pada Oktober 2007, menjelang krisis finansial global, indeks S&P 500 mencapai rekor tertinggi, meskipun risiko sistemik telah terakumulasi melalui pertumbuhan kredit yang agresif. Ketika koreksi terjadi, nilai indeks terpangkas sekitar 57 persen sampai awal 2009. Dari kedua kasus tersebut kelihatan bahwa keruntuhan pasar bukan disebabkan oleh kelemahan ekonomi yang mendadak, melainkan juga oleh overheating yang telah lama membara di bawah permukaan.

Kerangka analisis Bank for International Settlements (BIS) dan IMF selalu menekankan bahwa siklus finansial sering lebih menentukan dibandingkan dengan siklus bisnis konvensional. Ekspansi kredit yang melampaui tren historis, penurunan premi risiko, serta kenaikan harga aset yang cepat, merupakan indikator klasik atas akumulasi volatilitas. Ketika leverage meningkat, sistem menjadi lebih sensitif terhadap perubahan kecil, baik berupa kenaikan suku bunga, perlambatan laba perusahaan, maupun perubahan ekspektasi investor.

Mekanisme koreksi biasanya dimulai dari perubahan kebijakan atau bergesernya persepsi risiko. Saat inflasi meningkat, Bank Sentral cenderung memperketat kebijakan melalui kenaikan suku bunga atau penarikan likuiditas. Perubahan ini akan meningkatkan discount rate terhadap arus kas masa depan, sehingga valuasi saham yang sebelumnya terlihat wajar tiba-tiba terasa menjadi begitu mahal. Dalam lingkungan leverage tinggi, penurunan harga dapat memicu margin call dan deleveraging paksa yang mempercepat tekanan jual.

Karakter forward looking bursa saham turut memperkuat dinamika itu. Karena bursa selalu merefleksikan ekspektasi masa depan, bukan kondisi ekonomi saat ini. Oleh karena itu, jangan heran jika koreksi sering terjadi ketika indikator makro masih tampak solid. Pada fase tersebut, pelan tapi pasti, pasar mulai mendiskon perlambatan yang belum sepenuhnya tercermin dalam data.

Bagi emerging markets, volatilitas dapat menjadi lebih tajam karena ketergantungan pada arus modal global. IMF mencatat bahwa periode likuiditas global longgar sering diikuti dengan lonjakan capital inflows yang mendorong harga aset domestik. Namun perubahan kecil dalam kebijakan moneter negara maju dapat memicu pembalikan arus dana secara cepat. Episode taper tantrum 2013 menunjukkan bagaimana perubahan ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve mampu memicu tekanan simultan di bursa saham, obligasi, dan nilai tukar di berbagai negara berkembang.

Pelajaran penting dari dinamika ini adalah bahwa kenaikan indeks harga saham yang cepat tidak selalu mencerminkan kesehatan ekonomi yang berkelanjutan. Pada banyak kasus, justru fase optimisme ekstrem itu telah menjadi periode dengan risiko tertinggi. Ketika narasi pertumbuhan berubah menjadi konsensus tanpa ruang skeptisisme, valuasi cenderung bergerak menjauh dari fundamental.

Bagi pembuat kebijakan, implikasinya jelas: stabilitas makro tidak cukup diukur melalui pertumbuhan PDB dan inflasi semata. Dinamika kredit, leverage sektor swasta, dan harga aset harus menjadi bagian integral dari pengawasan makroprudensial. Sementara itu, bagi pelaku pasar, kesadaran bahwa risiko terbesar sering muncul saat rasa aman mencapai puncaknya, menjadi pengingat penting dalam membaca siklus. Akhirnya, pasar saham bukan hanya refleksi cermin ekonomi, tetapi juga barometer ekspektasi. Ketika suhu terlalu tinggi, koreksi bukanlah kegagalan sistem, melainkan mekanisme pendinginan yang tak terelakkan. ***

Oleh : Hery Nugroho, ekonom pada Swasaba Research Initiative (SRI) Yogyakarta