Home Ekonomi Banjir Likuiditas dan Mimpi Pertumbuhan

Banjir Likuiditas dan Mimpi Pertumbuhan

0
SHARE
Banjir Likuiditas dan Mimpi Pertumbuhan

 BIZNEWS.ID - HARIAN Bisnis Indonesia edisi 26 Februari 2026 menyorot sikap pemerintah yang tampak begitu konfiden menatap ekonomi 2026 dengan target pertumbuhan sebesar enam persen. Salah satu instrumen yang diandalkan untuk mencapainya adalah guyuran likuiditas ke sektor perbankan, terutama bank-bank Himbara. Logikanya sederhana, dengan likuiditas yang bertambah, maka volume kredit meningkat, konsumsi dan investasi terdorong, dan ekonomi pun melesat. Akankah transmisinya berjalan semulus teori dalam buku teks itu?

Himbara (Mandiri, BRI, BNI, dan BTN), memang memegang peranan dominan dalam sistem perbankan nasional. Pangsa aset dan kredit mereka sungguh besar, jangkauan nasabah luas, sekaligus memiliki mandat pembangunan. Maka, ketika likuiditas tambahan disuntikkan, secara agregat efeknya berpotensi sangat signifikan.

Tambahan likuiditas pasti akan memperkuat rasio kecukupan likuiditas bank dan menurunkan tekanan biaya dana (cost of fund). Dengan biaya dana yang lebih murah dan stabil, maka bank memiliki ruang untuk menyalurkan kredit lebih agresif. Baik ke sektor UMKM, korporasi, maupun kredit perumahan. Secara teoretis, akselerasi pertumbuhan kredit yang lebih tinggi akan mendorong ekspansi usaha dan meningkatkan konsumsi rumah tangga. Namun demikian, berbicara pertumbuhan ekonomi tidak hanya masalah suplai dana. Episentrum masalah justru terletak pada permintaan kredit dan keberanian dalam mengambil risiko.

Dalam situasi global yang masih dibayangi ketidakpastian, dunia usaha cenderung berhati-hati. Banyak korporasi memilih menunda berekspansi, bukan karena bank tak mau memberi kredit, melainkan karena prospek pasar belum cukup menjanjikan. Dalam konteks seperti itu, likuiditas berlimpah bisa saja hanya parkir di instrumen pasar uang atau surat berharga negara, bukan mengalir ke sektor riil. Selain itu, bisa juga terjadi penundaan pencairan, meskipun pengajuan kredit sudah di-approved. Hal tersebut terlihat dari lonjakan kredit nganggur (undisbursed loan) perbankan mencapai Rp2.506,47 triliun per Januari 2026 (setara dengan 22,65 persen dari plafon kredit yang tersedia).

Dari sisi rumah tangga, daya beli yang tertekan juga membatasi permintaan kredit konsumsi. Kredit memang bisa menopang konsumsi sementara, tetapi jika pendapatan riil stagnan, ekspansi kredit justru berisiko meningkatkan beban utang masyarakat.

Di sinilah tantangan sesungguhnya. Pertumbuhan kredit yang sehat bukan sekadar tinggi secara angka, melainkan berkualitas. Kredit produktif seperti modal kerja, investasi mesin, ekspansi kapasitas, memiliki multiplier effect lebih besar dibanding kredit konsumtif jangka pendek. Jika target enam persen hendak dicapai, pertumbuhan kredit perlu berada pada level dua digit yang kuat dan berkelanjutan. Secara historis, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kisaran lima persen, biasanya konsisten dengan kredit tumbuh sekitar 10–12 persen. Untuk melampaui itu, dibutuhkan akselerasi kredit yang lebih agresif, namun tetap 1 prudent.

Di sinilah dilema muncul, semakin agresif ekspansi, semakin besar pula risiko kredit bermasalah (NPL). Bank, termasuk Himbara, tetap tunduk pada prinsip kehati-hatian. Jika kualitas debitur memburuk atau risiko gagal bayar meningkat, maka bank cenderung mengetatkan standar penyaluran kredit, tak peduli seberapa besar likuiditas yang tersedia. Likuiditas hanyalah bahan bakar, pedal gas tetap dikendalikan oleh manajemen risiko. Ada pula risiko lain yang patut dicermati. Likuiditas yang terlalu longgar berpotensi mendorong inflasi apabila pertumbuhan permintaan tidak diimbangi peningkatan kapasitas produksi.

Selain itu, jika dana lebih banyak terserap untuk membeli surat utang negara ketimbang membiayai sektor produktif, dampaknya terhadap ekonomi riil menjadi terbatas. Uang berputar di dalam sistem keuangan, tetapi tidak cukup menciptakan nilai tambah baru. Dengan demikian, guyuran likuiditas dapat menjadi katalis, tetapi bukan penggerak utama pertumbuhan. Ia membantu menjaga momentum, terutama ketika ekonomi menghadapi tekanan eksternal. Namun untuk mendorong lompatan dari lima persen ke enam persen, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pelonggaran likuiditas. Masalah yang lebih krusial adalah reformasi struktural seperti perbaikan iklim investasi, kepastian regulasi, efisiensi logistik, dan penguatan industri bernilai tambah. Tanpa itu, tambahan kredit hanya berisiko memperbesar neraca perbankan tanpa memperluas kapasitas produksi nasional. Target enam persen bukan mustahil.

Tetapi jiha hanya mengandalkan likuiditas semata, ibarat berharap tanaman tumbuh subur hanya dengan menyiram air, tanpa memastikan kualitas tanah dan bibitnya. Pertumbuhan yang berkelanjutan menuntut fondasi yang lebih kokoh daripada sekadar aliran dana. Pertanyaannya, apakah likuiditas yang melimpah akan benar-benar menggerakkan mesin produksi, atau sekadar menjadi angka besar dalam laporan keuangan? Jawabannya akan menentukan apakah ambisi enam persen menjadi realitas atau hanya optimisme yang terlalu dini. *** 

Oleh : Hery Nugroho, ekonom pada Swasaba Research Initiative (SRI) Yogyakarta.


https://listrik69sgm.medium.com/
https://21streetwear.com/blog/
https://chcd.ibc-institute.id/
https://21streetwear.com/about/