Home Energi Harga Minyak Melonjak karena Perkembangan Vaksin Covid-19

Harga Minyak Melonjak karena Perkembangan Vaksin Covid-19

14
0
SHARE
Harga Minyak Melonjak karena Perkembangan Vaksin Covid-19


Jakarta, BIZNEWS.ID - Harga minyak naik lebih dari 1 persen pada penutupan perdagagan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta). Penguatan ini memperpanjang kenaikan pada minggu lalu karena uji coba vaksin Covid-19 yang berhasil.

Sentimen kenaikan harga minyak juga didukung oleh ekspektasi bahwa Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bersama dengan Rusia dan produsen lain atau kelompok yang dikenal dengan OPEC+, mungkin memperpanjang kesepakatan untuk menahan produksi.

Mengutip CNBC, Selasa (24/11/2020), harga minyak mentah Brent naik 92 sen atau 2 persen menjadi USD 45,89 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate ditutup menguat 64 sen atau 1,51 persen lebih tinggi ke level USD 43,06 per barel.

Kedua benchmark atau patokan harga minyak tersebut melonjak 5 persen pada minggu lalu.

Struktur contango di mana harga kontrak pengiriman bulan depan lebih rendah daripada untuk pengiriman enam bulan kemudian, menyempit menjadi USD 32 sen. Angka ini merupakan terkecil sejak pertengahan Juni.

Dengan penyempitan ini menunjukkan bahwa kekhawatiran tentang kelebihan pasokan minyak tengah surut.

Harga minyak terus menguat karena prospek permintaan telah membaik dengan berita yang menunjukkan kemajuan dalam mengembangkan vaksin Covid-19.

Seorang pejabat AS mengatakan penyuntikan pertama vaksin Covid-19 di Amerika Serikat dapat dimulai satu atau dua hari setelah persetujuan peraturan.

Produsen obat Inggris AstraZeneca mengatakan pada hari Senin bahwa vaksin yang tengah mereka kembangkan bersama dengan Universitas Oxford, dapat menjadi sekitar 90 persen efektif di bawah satu rejimen dosis.

Analis PVM Stephen Brennock mengatakan berita soal vaksin tersebut melepaskan sentimen yang suram. “Investor mengabaikan hambatan jangka pendek yang utamanya adalah melonjaknya infeksi Covid-19. Investor tengah melihat sentimen jangka panjang,” katanya.

Di sisi penawaran, OPEC+ akan bertemu pada 30 November dan 1 Desember. OPEC akan melihat opsi untuk memperpanjang kesepakatan mereka tentang pengurangan produksi setidaknya tiga bulan dari Januari. Hal tersebut tentu saja akan mendorong kenaikan harga minyak.

Harga Minyak Naik Tiga Minggu Berturut Turut

Sebelumnya, harga minyak menguat pada hari Jumat, dan membukukan kenaikan mingguan ketiga berturut-turut. Ini didukung oleh uji coba vaksin COVID-19 yang berhasil. Tetapi penguncian baru di beberapa negara untuk membatasi penyebaran virus membatasi keuntungan.

Prospek vaksin COVID-19 yang efektif dan harapan OPEC dan sekutunya akan mengendalikan produksi telah mendukung pasar minyak minggu ini.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (21/11/2020), harga minyak mentah berjangka Brent naik 59 sen, atau 1,3 persen, menjadi USD 44,79 per barel. Kontrak WTI untuk Desember, yang berakhir pada hari Jumat, ditutup 41 sen, atau 0,98 persen, lebih tinggi pada USD 42,15 per barel.

Kedua tolak ukur tersebut naik lebih dari 4 persen sepanjang minggu ini.

"Kekhawatiran tentang permintaan, yang telah membebani harga sejak musim semi, sekarang memberi jalan kepada harapan pemulihan ekonomi, sebagian berkat peluncuran vaksin yang akan segera terjadi," kata Commerzbank.

Harga juga mendapat dukungan dari ekspektasi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia dan OPEC +, akan menunda peningkatan produksi yang direncanakan.

Kelompok itu, yang bertemu pada 30 November dan 1 Desember, sedang mencari opsi untuk menunda setidaknya tiga bulan dari Januari pengurangan penurunan 7,7 juta barel per hari (bph) mereka sekitar 2 juta barel per hari.

"Asumsi pengalihan pemotongan saat ini oleh OPEC + ke Q1 2021 mungkin pada harga hari ini USD 44 / barel," kata bank Nordik SEB.

Harga minyak mendapat beberapa dukungan dari tanda-tanda pergerakan pada kesepakatan stimulus di Washington setelah Pemimpin Mayoritas Republik Senat AS Mitch McConnell setuju untuk melanjutkan diskusi tentang memberikan lebih banyak bantuan COVID-19 ketika kasus melonjak di seluruh Amerika Serikat.

Kekhawatiran kelebihan pasokan, bagaimanapun, terus membebani karena Libya telah meningkatkan produksi ke tingkat pra-blokade 1,25 juta barel per hari. Demikian Liputan6.com

Photo : google image